Motor GL Pro Sejarah Lengkap dan Panduan Perawatan Mesin

Motor GL Pro Sejarah Lengkap dan Panduan Perawatan Mesin

Smallest Font
Largest Font

Motor GL Pro merupakan salah satu ikon otomotif roda dua yang pernah mendominasi jalanan Indonesia pada dekade 80-an hingga awal 2000-an. Kendaraan ini tidak sekadar alat transportasi, melainkan simbol ketangguhan dan status sosial bagi pemiliknya pada masa itu. Dikenal dengan karakter mesin yang bertenaga namun irit bahan bakar, motor ini menjadi andalan masyarakat untuk menempuh jarak jauh, mengangkut beban berat, hingga dimodifikasi menjadi kendaraan yang penuh gaya.

Ketangguhan mesin yang ditawarkan oleh keluarga GL series ini membuat namanya tetap harum hingga saat ini. Di pasar motor bekas, unit ini masih banyak diburu oleh kolektor maupun builder motor kustom. Memahami seluk-beluk motor ini memerlukan pemahaman mendalam mengenai transisi teknologinya, mulai dari era platina hingga era Neotech yang lebih modern. Keunggulan sasis yang rigid dan kemudahan dalam mendapatkan suku cadang membuat motor GL Pro tetap relevan di tengah gempuran motor injeksi masa kini.

Evolusi dan Sejarah Varian Motor GL Pro di Indonesia

Perjalanan motor GL Pro di tanah air terbagi ke dalam beberapa fase penting yang masing-masing memiliki karakteristik unik. Varian pertama yang muncul adalah GL Pro White Engine atau sering disebut GL Pro Series. Motor ini diproduksi sekitar tahun 1985 hingga 1991. Secara visual, blok mesinnya berwarna silver (putih), dan secara teknis, motor ini masih menggunakan sistem pengapian yang sederhana namun sangat handal untuk penggunaan harian.

Memasuki tahun 1992, Honda meluncurkan varian yang kemudian menjadi legenda paling dicari, yaitu GL Pro Black Engine. Sesuai namanya, seluruh bagian mesin dibalut warna hitam pekat yang memberikan kesan gagah dan tangguh. Varian ini dianggap sebagai kasta tertinggi karena memiliki rasio kompresi dan tenaga yang lebih besar dibandingkan varian lainnya. Mesin 145cc miliknya mampu menghasilkan torsi yang sangat melimpah, menjadikannya raja di tanjakan pada masanya.

Fase terakhir ditandai dengan munculnya GL Pro Neotech pada tahun 1995. Perubahan paling signifikan pada varian ini adalah penggunaan mesin berkapasitas 160cc dengan teknologi mesin yang lebih halus. Neotech membawa perubahan pada sistem kelistrikan dan penggunaan rantai keteng (cam chain) yang berbeda dari generasi sebelumnya. Meskipun kapasitas mesinnya lebih besar, banyak pecinta otomotif tetap menganggap Black Engine memiliki karakteristik tarikan yang lebih "meledak-ledak".

Restorasi Honda GL Pro Black Engine
Tampilan klasik Honda GL Pro Black Engine yang telah direstorasi secara total sesuai orisinalitas pabrikan.

Perbandingan Spesifikasi Teknis Antar Generasi

Untuk memahami mengapa motor ini begitu dicintai, kita perlu melihat data teknis yang mendasarinya. Setiap generasi membawa pembaruan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar saat itu. Berikut adalah tabel perbandingan spesifikasi antara varian Black Engine dan Neotech yang paling populer di pasaran:

Fitur/Spesifikasi GL Pro Black Engine (1992-1994) GL Pro Neotech (1995-1999)
Kapasitas Mesin 145 cc 156.7 cc
Sistem Pengapian CDI-AC CDI-DC Transmisi 5-Percepatan 5-Percepatan Pendinginan Udara (Air Cooled) Udara (Air Cooled) Sistem Starter Kick Starter Kick Starter

Dari tabel di atas, terlihat jelas bahwa Neotech memiliki keunggulan dari sisi kapasitas mesin. Namun, sistem pengapian CDI-AC pada Black Engine justru sering dianggap lebih sederhana dan mudah diperbaiki dalam kondisi darurat di pelosok daerah. Inilah alasan mengapa motor GL Pro varian lawas seringkali memiliki harga yang lebih tinggi di kalangan pehobi dibandingkan varian yang lebih muda.

Kelebihan Menggunakan Motor GL Pro untuk Harian

Meskipun usianya sudah puluhan tahun, ada beberapa alasan objektif mengapa motor ini masih layak digunakan sebagai kendaraan harian atau sekadar hobi di akhir pekan:

  • Struktur Rangka Solid: Rangka tipe diamond cold yang digunakan sangat stabil untuk bermanuver dan mampu menahan beban berat tanpa kendala berarti.
  • Suku Cadang Melimpah: Karena banyak komponen yang berbagi (common parts) dengan Honda Tiger atau GL Max, mendapatkan onderdil bukanlah perkara sulit.
  • Mudah Dimodifikasi: Struktur bodinya yang lurus dari depan ke belakang menjadikannya basis favorit untuk aliran Japstyle, Cafe Racer, maupun Bratstyle.
  • Torsi Besar: Untuk ukuran motor 4-tak lama, akselerasi putaran bawah GL Pro sangat responsif, terutama untuk penggunaan di daerah pegunungan.
"GL Pro bukan sekadar mesin tua, ia adalah kanvas kosong bagi para builder dan saksi bisu perkembangan ekonomi di pedesaan Indonesia selama dekade 90-an."
Modifikasi GL Pro Japstyle
Gaya Japstyle menjadi salah satu pilihan modifikasi paling populer untuk basis motor GL Pro karena rangkanya yang proporsional.

Panduan Perawatan Agar Mesin Tetap Prima

Memelihara motor GL Pro membutuhkan ketelatenan, terutama pada bagian sektor mesin dan sistem kelistrikan. Karena mayoritas unit sudah berumur lebih dari 20 tahun, pemeriksaan rutin menjadi kunci utama agar motor tidak sering mogok atau mengalami penurunan performa secara drastis.

Langkah pertama dalam perawatan adalah penggantian oli secara rutin setiap 1.500 hingga 2.000 kilometer. Gunakan oli dengan kekentalan yang sesuai untuk mesin tua, seperti SAE 20W-50, guna meminimalisir gesekan pada komponen internal mesin yang sudah mengalami keausan alami. Selain itu, pembersihan karburator secara berkala sangat disarankan untuk menjaga suplai bahan bakar tetap lancar dan pembakaran tetap optimal.

Hal krusial lainnya adalah pemeriksaan rantai mesin (kamrat) dan setelan klep. Mesin GL Series dikenal dengan suara khas "kemricik" jika rantai keteng sudah mulai kendur. Penyetelan klep yang tepat tidak hanya menghilangkan suara bising, tetapi juga memastikan efisiensi bahan bakar tetap terjaga. Jangan lupa untuk selalu memeriksa kondisi kelistrikan, terutama bagian kabel bodi yang sering kali sudah mulai getas dimakan usia.

Suku Cadang Honda GL Pro
Penggunaan suku cadang original sangat disarankan untuk menjaga performa mesin motor GL Pro tetap stabil dalam jangka panjang.

Masalah Umum yang Sering Terjadi

Meskipun dikenal sebagai motor tangguh, ada beberapa penyakit khas yang sering ditemui pada motor GL Pro, di antaranya:

  1. Kebocoran Tangki: Desain tangki yang rentan menampung air di bagian bawah seringkali menyebabkan keropos dan bocor halus.
  2. Gigi Primer dan Sekunder: Pada unit yang sering digunakan untuk beban berat, sering terdengar suara mendengung dari area transmisi yang menandakan keausan pada gigi tersebut.
  3. Kelistrikan CDI: Terutama pada varian Neotech yang sudah menggunakan sistem DC, aki yang lemah dapat mempengaruhi performa pengapian secara langsung.
  4. Bosh Swing Arm: Jika motor terasa goyang saat menikung, kemungkinan besar bosh arm sudah minta diganti.

Masa Depan Motor GL Pro di Kancah Otomotif Indonesia

Melihat tren otomotif saat ini, eksistensi motor ini nampaknya tidak akan pudar dalam waktu dekat. Justru, nilai ekonomis dari motor ini terus merangkak naik seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap gaya hidup retro. Motor yang dulunya dianggap sebagai motor "pekerja" kini telah bertransformasi menjadi barang koleksi yang memiliki nilai prestise tersendiri jika dalam kondisi full restorasi atau modifikasi yang rapi.

Bagi mereka yang ingin membangun atau memelihara unit ini, kuncinya terletak pada kesabaran dalam mencari komponen original. Penggunaan part imitasi memang jauh lebih murah, namun ketahanannya tidak akan pernah bisa menyamai standar pabrikan Honda pada masa jayanya. Investasi pada komponen original akan sangat berpengaruh pada harga jual kembali di masa depan jika Anda memutuskan untuk melepasnya ke kolektor.

Pada akhirnya, motor GL Pro adalah warisan teknik yang membuktikan bahwa kualitas material mesin masa lalu memang dibuat untuk bertahan lama. Selama perawatan dasar dilakukan dengan benar dan tidak dipaksakan melebihi batas kemampuannya, motor ini akan terus menderu di aspal jalanan, mengingatkan kita pada masa keemasan motor sport satu silinder di Indonesia.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow